Pemeriksaandilakukan secara berurutan dan terstruktur. Langkah-langkah pemeriksaan ini yaitu : Memperhatikan wajah ibu hamil, apakah wajah ibu hamil terlihat pucat ataupun mengalami pembengkakan. Selain itu memeriksa sclera mata. Memeriksa mulut hal yang diperiksa yaitu bibir dan juga gigi.
Pemeriksaanini mengukur persentase sel darah merah dalam sampel darah. Jika ibu hamil memiliki kadar hemoglobin atau hematokrit lebih rendah dari tingkat normal, ia mungkin mengalami anemia kekurangan zat besi.
2Pemeriksaan Penunjang Thalassemia pada Ibu Hamil. Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 18 Oktober 2020. Halodoc, Jakarta - Thalassemia adalah kelainan darah bawaan (genetik) yang terjadi ketika gen yang bermutasi memengaruhi kemampuan tubuh untuk membuat hemoglobin yang sehat, yakni protein kaya zat besi yang ditemukan dalam sel darah
Sementarapemeriksaan X-ray yang dilakukan pada usia kandungan di atas 2 bulan, akan berisiko menyebabkan bayi lahir dengan masalah intelektual. Sehingga sampai saat ini, ibu hamil biasanya tidak disarankan untuk menjalani pemeriksaan X-ray, kecuali dalam kondisi darurat disertai dengan izin dokter kandungan, dan dokter spesialis radiologi.
Pemeriksaantekanan darah ini wajib dilakukan oleh ibu hamil trimester 1. Sebab ibu hamil sangat rentan terserang penyakit hipertensi. Normalnya tekanan darah sistolik/diastolik pada ibu hamil berkisar 90/60 mmHg - 120/80 mmHg. Kenaikan tekanan darah selama kehamilan yang terlalu tinggi atau rendah bisa menganggu kesehatan janin.
Pemeriksaanpenunjang pada setiap ibu hamil diperlukan un-tuk melakukan screening terhadap penyakit - penyakit yang dapat menyertai kehamilan pada setiap ibu hamil yang melakukan pemer-iksaan awal, namun pada ibu hamil dengan kunjungan ulang pemerik-saan penunjang dilakukan atas ind-ikasi. Berikut langkah-langkahnya : 1. Pemeriksaan Hemoglobin a.
. Selain pada wanita, pemeriksaan hCG juga bisa dilakukan pada pria untuk membantu mendeteksi kanker testis. Untuk mendiagnosa kondisi kanker, tes alpha-fetoprotein mungkin diperlukan. Bagaimana prosedur pemeriksaan hCG? Tes human chorionic gonadotropin dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu memeriksa sampel darah atau dengan sampel urine. Tes darah hCG umumnya lebih akurat daripada tes urine. Namun, tes urine lebih umum dilakukan karena prosedurnya yang lebih mudah dan Anda bisa melakukan tes kehamilan sendiri di rumah dengan cara tersebut. Pengambilan sampel darah Pemeriksaan hCG dalam darah dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pembuluh darah vena di lengan dengan langkah-langkah berikut. Petugas kesehatan membersihkan area kecil di lengan atau siku bagian dalam dengan lap antiseptik atau kapas alkohol. Untuk memudahkan penyuntikkan, dokter akan mengikatkan sabuk elastis di sekitar lengan atas sampai pembuluh darah Anda membesar. Pembuluh darah kemudian ditusuk dengan jarum yang terhubung dengan wadah berupa tabung kecil. Setelah darah diambil, dokter akan melepaskan jarum lalu menutup bekas tusukan dengan perban untuk mencegah pendarahan. Anda perlu menekuk lengan beberapa menit untuk mempercepat penutupan luka di kulit. Pengambilan sampel urine Pemeriksaan hCG dengan sampel urine perlu memperhatikan hal-hal berikut. Sebaiknya sampel urine yang digunakan berasal dari air kencing pertama di pagi hari saat jadwal pemeriksaan. Selain urine pagi hari, urine dari 4 jam setelah buang air kecil terakhir juga bisa digunakan. Dianjurkan menggunakan sampel urine di waktu-waktu tersebut karena memiliki kadar hCG yang tinggi sehingga hasilnya akan lebih akurat. Untuk mengambil sampel urine, Anda akan diminta untuk melakukannya sendiri di rumah atau di toilet di rumah sakit. Berikut langkah-langkah yang perlu Anda lakukan. Pastikan penampung sampel urine yang Anda gunakan bersih dan kering. Letakkan penampung tersebut di dekat kemaluan tepat mengenai aliran air kencing. Jangan biarkan ujung penampung menyentuh area kelamin. Jagalah sampel urine dari percikan air dan zat asing lainnya seperti tisu, rambut kemaluan, kotoran, atau darah. Tutup penampung dengan hati-hati dan bawalah ke laboratorium. Usahakan membawa sampel urine tersebut dalam waktu kurang dari 1 jam. Bila terlambat, simpan sampel di kulkas atau ulangi proses pengambilan sampel pada hari berikutnya. Setelah mengambil sampel darah ataupun sampel urine, Anda akan diminta untuk menunggu hasilnya. Biasanya, hasil tes dapat diperoleh pada hari yang sama. Selanjutnya, Anda perlu berkonsultasi lagi dengan dokter untuk membicarakan hasil tes yang sudah Anda lakukan. Bagaimana cara membaca hasil pemeriksaan hCG? Hasil pemeriksaan dengan metode kualitatif atau beta hCG cukup sederhana. Hanya berupa nilai positif atau negatif. Hasil positif menandakan bahwa terdapat hormon hCG dalam urine sedang hamil. Hasil negatif menandakan bahwa tidak terdapat hormon hCG dalam urine tidak hamil. Bila hasilnya negatif tetapi dokter tetap mencurigai Anda hamil, biasanya akan dilakukan pemeriksaan human chorionic gonadotropin dengan sampel darah. Pilihan lainnya, Anda mungkin diminta mengulang tes seminggu kemudian. Untuk mendeteksi kehamilan, biasanya metode kualitatif sudah cukup. Namun, dalam kondisi tertentu, mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui kadarnya dengan metode kuantitatif. Pemeriksaan metode kuantitatif akan menunjukkan informasi yang lebih lengkap, yaitu sebagai berikut. Hasil normal Skor normal pada hasil tes biasanya bervariasi dari satu laboratorium dengan laboratorium lainnya tergantung skala pengukuran yang digunakan. Oleh karena itu, sebaiknya Anda tidak menebak-nebak dan menunggu hasil penjelasan dokter. Selain itu, dokter juga perlu memeriksa hasil tes berdasarkan kondisi kesehatan Anda dan faktor lainnya. Pada pria normal dan wanita yang sedang tidak hamil, kadar hormon hCG dalam darah kurang dari 5 IU international unit per liter. Sementara pada kehamilan, hasil pemeriksaan hCG biasanya akan meningkat seiring dengan usia kehamilan. Melansir Pregnancy Birth dan Baby, berikut peningkatan kadar human chorionic gonadotropin dalam darah dari waktu ke waktu. 3 minggu setelah hari pertama haid terakhir HPHT 5-70 IU/liter. 4 minggu setelah HPHT 50-750 IU/liter. 5 minggu setelah HPHT 200-7100 IU/liter. 6 minggu setelah HPHT 160 – 32,000 IU/liter. 7 minggu setelah HPHT 3,700 – 160,000 IU/liter. 8 minggu setelah HPHT 32,000 – 150,000 IU/liter. 9 minggu setelah HPHT 64,000 – 150,000 IU/liter. 10 minggu setelah HPHT 47,000 – 190,000 IU/liter. 12 minggu setelah HPHT 28,000 – 210,000 IU/liter. 14 minggu setelah HPHT 14,000 – 63,000 IU/liter. 15 minggu setelah HPHT 12,000 – 71,000 IU/liter. 16 minggu setelah HPHT 9,000 – 56,000 IU/liter. 16 sampai 29 minggu setelah HPHT trimester kedua 1,400 – 53,000 IU/liter. 29 sampai 41 minggu setelah HPHT trimester ketiga 940 – 60,000 IU/liter. Kadar hCG sangat tinggi Kadar hCG yang sangat tinggi saat hamil mungkin menandakan Anda mengalami kondisi seperti kehamilan kembar seperti kembar dua atau tiga, kehamilan molar kehamilan anggur, janin mengalami sindrom Down, atau kehamilan Anda sudah berusia lebih lama dari perkiraan. Sementara itu, bila ditemukan kadar hCG yang tinggi pada pria atau wanita yang tidak hamil, kondisi ini bisa berarti berikut. Terdapat tumor yang berkembang dari sperma atau sel telur, seperti tumor testis atau tumor ovarium. Kemungkinan adanya kanker, seperti kanker perut, pankreas, usus besar, hati, atau paru-paru. Kadar hCG rendah Hasil pemeriksaan hCG yang menunjukkan kadar yang rendah bisa berarti Anda mengalami kondisi kehamilan ektopik, kematian bayi dalam kandungan stillbirth, atau usia kehamilan Anda ternyata lebih muda dari perkiraan. Bila kadar hormon tersebut berkurang secara tidak normal saat hamil kemungkinan besar menandakan Anda mengalami keguguran.
Seberapa penting pemeriksaan ibu hamil? Baik pemeriksaan darah, USG atau pemeriksaan cek kehamilan yang dilakukan setiap bulan? Semua calon ibu, tentu menginginkan hal yang sama saat dirinya dinyatakan positif hamil. Berharap kondisi janin sehat, bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya, tidak memiliki kelainan, dan tentunya ingin segera mendekapnya. Keinginan ini tentu saja bisa diwujudkan apabila Bunda memerhatikan kesehatan secara menyeluruh. Dimulai saat sedang program hamil, di mana setidaknya tiga bulan sebelum hamil, tubuh Bunda perlu disiapkan’ dengan baik. Pasalnya, tubuh Anda, khususnya rahim menjadi rumah’ pertama si kecil sebelum ia dilahirkan. Memastikan kondisi tubuh dengan sehat, nyatanya juga menjadi salah satu cara untuk memastikan pertumbuhan si kecil menjadi lebih maksimal dan mencegah terjadinya beragam risiko. Dalam hal ini, dr. Putri Deva Karimah, Sp. OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Rumah Sakit Pondok juga mengingatkan pentingnya ibu hamil melakukan pemeriksaan, termasuk pemeriksaan darah. Artikel terkait 10 Fakta Kehamilan yang Tak Dikatakan Dokter Kandungan Anda “Pemeriksaan kesehatan, seperti pemeriksaan darah pada ibu hamil sangatlah penting dan wajib untuk dilakukan, terutama pada awal kehamilan. Fungsinya tentu saja untuk mengetahui dan mengontrol kondisi ibu dan janin hingga persalinan tiba,” tuturnya. Ia melanjutkan, pemeriksaan ibu hamil di dalamnya pemeriksaan tes darah, bertujuan untuk mengetahui kondisi ibu secara umum dan menyeluruh. “Dari sini, tanda-tanda kekurangan gizi pada ibu hamil, potensi penyakit, atau infeksi dapat dideteksi dan dikenali sejak dini, sehingga pencegahan dan penanganan kondisi yang dapat membahayakan ibu selama kehamilan hingga proses persalinan serta komplikasi yang dapat berefek pada janin dapat segera diantisipasi.” tegasnya kepada theAsianparent Indonesia. Artikel terkait Pemeriksaan CTG selama hamil, kapan perlu dilakukan? Ini penjelasannya Mengingat pentingnya pemeriksaan ibu hamil sangat penting, dokter yang kerap disapa dengan panggilan dokter Putri ini menganjurkan agar para Bunda tidak menyepelekan dan lupa melakukannya. “Banyak sekali keuntungan dari pemeriksaan kehamilan, bagi ibu hamil yang lengah dan tidak pernah melakukan pemeriksaan, hati-hati dengan komplikasi yang dapat terjadi selama kehamilan dan proses persalinan yang dapat membahayakan ibu dan janin. Contohnya adalah anemia atau kekurangan darah pada ibu yang dapat berisiko perdarahan saat proses persalinan apabila tidak segera diantisipasi sejak awal kehamilan. Selain itu risiko infeksi pada ibu hamil yang dapat menyebabkan ibu kontraksi sehingga bayi lahir belum cukup bulan atau prematur. Hal-hal seperti ini sebenarnya dapat dihindari dan dideteksi sejak awal, jika ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan dan cek darah sesuai yang dokter sarankan,” paparnya panjang lebar. Stillbirth, menjadi salah satu risiko jika pemeriksaan ibu hamil tidak dilakukan Salah satu risiko yang perlu diwaspadai jika pemeriksaan kesehatan selama hamil tidak dilakukan, adalah risiko terjadinya stillbirth. Stillbirth ini merupakan keadaan bayi meninggal dalam kandungan setelah kehamilan berusia di atas 20 minggu. Dalam beberapa kasus stillbirth ini, ada juga bayi yang meninggal ketika proses persalinan berlangsung. Namun, presentasenya cenderung kecil. Hellosehat menyebutkan, pada 2015 jumlah bayi meninggal karena stillbirth adalah 2,6 juta secara global. Kondisi ini lebih sering terjadi di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Meskipun sampai saat ini penyebab pasti terjadinya stillbirth belum diketahui secara pasti, namun pakar kesehatan menyebutkan kalau infeksi pada ibu hamil bisa memperbesar risiko. Alodokter juga menyebutkan bahwa jenis infeksi yang paling sering menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan adalah infeksi bakteri. Hal ini dapat terjadi ketika ibu hamil terinfeksi bakteri, dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Kuman tersebut bisa menyebar dari vagina ke rahim kemudian menginfeksi bayi. Hal ini dapat menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan. Stunting bisa dicegah saat hamil Pemeriksaan ibu hamil secara rutin nyatanya juga bisa mencegah anak mengalami stunting. Seperti yang kita ketahui, masalah stunting menjadi salah satu perhatian yang terus digalakkan oleh pemerintah. Sebabnya, stunting tidak bisa disembuhkan dan akan memengaruhi masa depan anak, bahkan masa depan bangsa. Stunting bisa menurunkan kecerdasan anak, sehingga saat dewasa mereka berisiko untuk kesulitan berkompetisi. Jadi, bisa dibayangkan jika masalah masalah stunting ini tidak segera diatasi? Tentu saja akan berakibat buruk dan memengaruhi perekonomian di kemudian hari. Itulah informasi terkait pentingnya pemeriksaan pada ibu hamil. Semoga bermanfaat. Baca juga Mencegah Stillbirth, Kematian Bayi di Dalam Kandungan Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.
Menjelang persalinan, ada banyak hal yang perlu Mama ketahui dan persiapkan. Apa saja ya?Trimester ketiga merupakan fase kehamilan yang paling ditunggu-tunggu oleh para calon mama. Ada rasa bahagia, deg-degan serta rasa tak sabar yang melebur menjadi fase menandai semakin dekat waktu Mama bertemu dengan sang buah hati, namun disaat yang bersamaan, semakin risau pula Mama menghadapi proses trimester ketiga ini dokter kandungan biasanya akan meminta calon mama untuk melakukan pemeriksaan sedikitnya dua kali dalam intensitas pemeriksaan akan berubah menjadi seminggu sekali ketika usia kehamilan Mama menginjak usia 36 fase ini, kemungkinan Mama akan menjalani beberapa tes untuk mengetahui perkembangan serta kondisi janin di dalam apa saja ya yang akan dijalani di trimester akhir ini?1. Pemeriksaan kesehatan mamaFreepik/ seperti pemeriksaan yang rutin dilakukan setiap bulan, pada kunjungan dokter di trimester ketiga ini Mama juga akan menjalani sejumlah pemeriksaan rutin seperti berat badan dan tekanan ragu untuk memberitahukan dokter segala keluhan yang Mama rasakan selama kehamilan. Untuk mengatasi rasa nyeri yang umumnya muncul di area punggung hingga panggul, dokter biasanya menyarankan Mama untuk latihan kegel guna memperkuat otot dasar panggul sekaligus mengurangi inkontinensia urine rembesan air seni saat batuk atau bersin.2. Pemeriksaan tekanan darah calon mamaPixabay/StevepbSaat memasuki trimester ketiga, dokter akan lebih intens memantau tekanan darah Mama. Pasalnya, di trimester ketiga ibu hamil rentan mengalami peningkatan tekanan darah hipertensi yang berujung pada gejala darah 140/90 atau meningkat 30 sistolik angka atas atau 15 diastolik angka bawah merupakan tanda-tanda terjadinya preeklamsia dan diperlukan tes urin guna menegakkan mama dinyatakan positif mengalami preeklamsia apabila hasil tes urin menunjukkan peningkatan proteinuria signifikan +2 atau lebih. Jika masih tergolong preeklamsia ringan, dokter biasanya akan terus melakukan observasi dan meresepkan vitamin atau obat untuk menurunkan tekanan jika hasil tes urin menyatakan kondisi preeklamsia yang diderita Mama cukup berat, maka kemungkinan persalinan akan segera dilakukan jika usia kehamilan sudah dirasa cukup dan tidak ada masalah dengan kondisi Picks3. Pemeriksaan posisi janinUnsplash/Heather MountSelain melalui USG, pemeriksaan posisi janin biasanya dilakukan dengan maneuver Leopold, yakni meraba fundus atau puncak rahim mama, lalu meraba kedua sisi rahim serta bagian atas tulang panggul depan. Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui posisi janin, apakah posisinya sungsang, melintang atau siap memasuki jalan lahir. Hal ini menjadi parameter dokter untuk memperkirakan metode persalinan apa yang harus Pemeriksaan rongga minggu-minggu akhir jelang persalinan, dokter akan melakukan pemeriksaan rongga panggul untuk memastikan apakah panggul mama cukup luas untuk melakukan persalinan rongga panggul pada calon mama yang baru pertama kali hamil lebih sempit daripada yang pernah melahirkan Pemeriksaan mulut rahim serviks usia kehamilan sudah lewat dari tanggal perkiraan HPL, maka dokter akan memeriksa kondisi mulut rahim atau serviks mama. Apakah serviks sudah menipis, melembut dan membuka. Hal ini membantu dokter memutuskan apakah perlu melakukan induksi untuk mempercepat proses Pemeriksaan berat badan trimester ketiga, dokter akan lebih intens memantau berat badan janin. Hal ini dapat dilakukan melalui USG. Dokter akan menganjurkan Mama untuk mengatur pola makan dan membatasi konsumsi gula jika berat badan janin tergolong besar. Sebab, jika berat janin terlalu besar akan menimbulkan trauma persalinan dan beresiko mempersulit proses kelahiran untuk mengatur pola makan seimbang juga akan dianjurkan dokter jika berat janin diketahui rendah. Kemungkinan dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui penyebab berat janin Pemeriksaan CTGFreepik/pressfotoPemeriksaan CTG biasanya akan dilakukan menjelang persalinan. Ini supaya dokter atau bidan bisa terus memantau kondisi janin dengan mengukur denyut biasanya dokter akan lebih sering memantau menggunakan CTG apabila Mama memiliki kondisi yang dianggap membahayakan persalinan atau kesehatan janin, misalnya diabetes atau pemeriksaan diatas umum dilakukan pada calon mama saat memasuki trimester ketiga. Pasalnya, diperlukan persiapan yang matang untuk menghadapi proses persalinan. Mama tak perlu khawatir ya, sebab dokter tentu tau mana yang terbaik untuk kondisi Mama dan si juga Mengapa Jelang Persalinan Harus Dilakukan Cek CTG? Ini JawabannyaBaca juga 7 Makna di Balik Tendangan Bayi Dalam Kandungan
Pemeriksaan kehamilan dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan ibu hamil maupun janin. Jenisnya pun beragam, mulai dari pemeriksaan USG hingga tes darah. Namun, tidak semua pemeriksaan perlu dilakukan oleh ibu hamil setiap saat dan umumnya disesuaikan dengan usia kehamilan. Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Selain memantau kesehatan, pemeriksaan kehamilan juga bermanfaat untuk mencegah sekaligus mendeteksi penyakit pada ibu hamil dan janin sejak dini. Dengan begitu, penanganan medis bisa diberikan lebih awal. Kapan Harus Melakukan Pemeriksaan Kehamilan? Pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan sebanyak 8 kali, yang terbagi berdasarkan trimester kehamilan. Berikut ini adalah penjelasannya Trimester pertama Pada usia kehamilan di bawah 12 minggu ini, ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan kehamilan setidaknya 1 kali di rumah sakit atau klinik. Trimester kedua Saat usia kandungan 13–27 minggu, pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu ketika usia kehamilan 20 minggu dan 26 minggu. Trimester ketiga Di trimester ketiga, ibu hamil wajib menjalani pemeriksaan kehamilan sebanyak 5 kali, yaitu saat usia kandungan 30, 34, 36, 38, dan 40 minggu. Meski ibu hamil umumnya akan melahirkan saat usia kandungan memasuki 40 minggu, ada sebagian ibu hamil yang mungkin saja belum juga melahirkan hingga usia kandungannya 41 minggu. Jika Bumil mengalaminya, segeralah periksakan diri ke dokter. Jenis Pemeriksaan Kehamilan Wajib Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia WHO, ada beberapa pemeriksaan kehamilan yang perlu dilakukan ibu hamil, yaitu 1. Konsultasi Hal pertama yang dilakukan saat pemeriksaan kehamilan adalah konsultasi. Dokter akan bertanya tentang keluhan yang Bumil alami saat ini dan riwayat penyakit. Hal ini dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan dan menilai risiko terjadinya penyakit. Selama konsultasi, dokter juga akan menganjurkan Bumil untuk menjalani pola hidup sehat, misalnya berhenti merokok dan berhenti mengonsumsi minuman beralkohol, serta menjalani pola makan sehat untuk mencukupi asupan nutrisi selama hamil. Bagi ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit asam lambung, dokter juga akan menganjurkan untuk menghindari makanan pemicu asam lambung naik. 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan kehamilan selanjutnya adalah pemeriksaan fisik untuk menilai kondisi ibu hamil secara umum. Jenis pemeriksaan fisik yang biasanya dilakukan meliputi pemeriksaan tekanan darah hingga pemeriksaan fisik jantung dan paru-paru. Saat usia kandungan sudah mencapai 36 minggu, pemeriksaan Leopold perlu dilakukan untuk mengetahui posisi dan letak bayi dalam kandungan. Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menentukan proses persalinan. 3. Tes darah Tes darah perlu dilakukan secara rutin oleh setiap ibu hamil. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ibu hamil mengalami penyakit tertentu dan mendeteksi kelainan pada janin. Jenis tes darah yang umumnya dilakukan pada ibu hamil adalah tes darah lengkap dan tes gula darah. Tes darah lengkap bertujuan untuk menghitung kadar hemoglobin dalam sel darah merah dan jumlah sel darah putih. Bila kedua indikator tersebut berada di bawah angka normal, ini bisa menandakan ibu hamil mengalami anemia atau infeksi. Sementara itu, tes gula darah juga penting dilakukan untuk memantau kadar gula dalam tubuh ibu hamil dan mencegah diabetes gestasional. 4. Pemeriksaan USG Pemeriksaan kehamilan selanjutnya adalah USG. Pemeriksaan ini hanya diperlukan saat usia kehamilan 12 dan 20 minggu. USG umumnya bertujuan untuk mendeteksi kelainan pada janin, memastikan kehamilan kembar, dan mengetahui posisi plasenta. Selain beberapa pemeriksaan kehamilan di atas, jenis pemeriksaan lain bisa saja dilakukan. Namun, pemeriksaan tambahan tersebut hanya perlu dilakukan ketika ibu hamil memiliki tanda-tanda gangguan kesehatan atau riwayat penyakit tertentu yang memerlukan pemeriksaan khusus. Meski masih ada pemeriksaan lainnya, semua pemeriksaan kehamilan di atas sebenarnya sudah cukup untuk memantau dan menjaga kesehatan ibu hamil maupun janin. Hal yang perlu diingat, pemeriksaan kehamilan tidaklah murah sehingga perlu disesuaikan dengan dana dan kebutuhan Bumil, apalagi jika Bumil memakai asuransi kesehatan. Pastikan dahulu besarnya biaya dan jenis pemeriksaan yang ditanggung oleh asuransi. Biaya yang harus Bumil utamakan adalah biaya untuk persalinan. Persiapkan juga dana cadangan untuk penanganan komplikasi yang mungkin terjadi saat atau setelah persalinan. Jangan sampai dana atau tanggungan asuransi yang Bumil miliki justru habis karena pemeriksaan yang tidak sesuai tujuan. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin oleh dokter perlu dilakukan secara tepat sasaran. Dengan begitu, kondisi kesehatan Bumil dan calon buah hati bisa terus terpantau dan proses persalinan pun dapat dipersiapkan dengan matang.
Ketika sudah mengetahui bahwa diri sedang hamil, selanjutnya Bumil perlu segera melakukan pemeriksaan kehamilan. Tujuannya adalah untuk memeriksa kondisi kesehatan Bumil dan janin dalam kandungan. Lalu, apa saja yang akan diperiksa dalam pemeriksaan kehamilan ini? Tujuan utama dari pemeriksaan kehamilan, atau yang dikenal juga dengan istilah antenatal care, adalah untuk menjaga agar kehamilan tetap sehat. Tak hanya untuk mengevaluasi kondisi Bumil, pemeriksaan kehamilan juga penting untuk memantau tumbuh kembang janin dan mendeteksi sedini mungkin kelainan atau gangguan kesehatan, baik pada janin maupun ibu hamil. Rangkaian Pemeriksaan Kehamilan yang Perlu Dijalani Ibu Hamil Saat melakukan pemeriksaan kehamilan, umumnya dokter akan memberikan konsultasi dan mengukur berat badan serta tanda-tanda vital Bumil, yang meliputi tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan kandungan, termasuk pemeriksaan Leopold. Setelah itu, dokter juga mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti 1. Tes darah Pemeriksaan darah lengkap merupakan salah satu jenis tes darah yang rutin dilakukan dokter ketika melakukan pemeriksaan kehamilan. Tujuannya adalah untuk mendeteksi kelainan yang mungkin dialami ibu hamil atau janin. Selain pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan yang juga dilakukan dalam tes darah adalah Tes golongan darah Tes golongan darah bertujuan untuk mengetahui golongan darah dan rhesus ibu hamil, guna mengantisipasi kemungkinan adanya perbedaan rhesus antara ibu dengan janinnya. Bila hasil tes darah menunjukkan bahwa Bumil memiliki rhesus negatif dan janin memiliki rhesus positif, maka ada risiko untuk terjadi inkompatibilitas rhesus. Pada kehamilan kedua, kondisi ini dapat menyebabkan anemia akibat pecahnya sel darah anemia hemolitik pada janin. Pemecahan sel darah merah yang berlebihan juga dapat menyebabkan bayi mengalami penyakit kuning jaundice. Tes hemoglobin Hb Hemoglobin atau Hb adalah protein di dalam sel darah merah yang bertugas untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh dan mengangkut karbon dioksida dari seluruh tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru. Ibu hamil perlu menjalani tes Hb untuk mendeteksi apakah kadarnya berada pada rentang normal atau justru rendah. Kadar Hb yang rendah atau anemia selama kehamilan paling sering disebabkan oleh kekurangan zat besi. Zat besi merupakan komponen utama pembentuk hemoglobin. Anemia selama kehamilan berisiko menyebabkan terjadinya kelahiran prematur, keguguran, berat badan lahir rendah, dan perdarahan postpartum. Oleh karena itu, ibu hamil yang mengalami anemia perlu mendapatkan penanganan untuk mencegah komplikasi yang telah disebutkan di atas. Tes gula darah Tes gula darah bertujuan untuk mendeteksi apakah ibu hamil mengalami diabetes kehamilan diabetes gestasional atau tidak. Ibu hamil lebih berisiko untuk menderita diabetes selama hamil bila mengalami obesitas, memiliki riwayat diabetes di keluarga atau pada kehamilan sebelumnya, berusia lebih dari 35 tahun saat hamil, atau menderita PCOS sebelumnya. Tes skrining penyakit infeksi Tes ini dilakukan untuk mendeteksi apakah terdapat penyakit infeksi pada ibu hamil. Beberapa penyakit yang perlu di skrining selama kehamilan adalah hepatitis B, sifilis, HIV, dan TORCH. Penyakit-penyakit tersebut perlu dideteksi sejak dini untuk mencegah komplikasi pada janin. Tes genetik Tes genetik diperlukan untuk mendeteksi kelainan genetik pada Bumil yang bisa menurun pada janin, misalnya thalasemia. Selain itu, tes genetik juga diperlukan untuk mengetahui sejak dini apakah janin yang dikandung mengalami kelainan genetik atau tidak. Beberapa kelainan genetik yang bisa dideteksi sejak kehamilan adalah sindrom Down, sindrom Klinifelter, dan hemofilia. Pemeriksaan genetik bisa dilakukan dengan mengambil sampel cairan ketuban amniocentesis atau sampel darah janin fetal blood sampling. 2. Tes urine antenatal Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel urine Bumil. Tes urin bertujuan untuk mendeteksi apakah ibu hamil mengalami gangguan tertentu, seperti preeklamsia, infeksi saluran kemih, atau diabetes. 3. Ultrasonografi USG Untuk memastikan Ibu hamil dan janin berada dalam kondisi yang sehat, perlu dilakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan minimal 3 kali selama masa kehamilan yang masing-masing bisa dilakukan pada Trimester pertama Pemeriksaan USG pada trimester pertama atau usia kandungan sekitar 10–14 minggu bertujuan untuk memastikan usia kehamilan dan melihat apakah sudah terbentuk kantong kehamilan. USG yang dilakukan pada terimester pertama juga berguna untuk memastikan tidak terjadinya kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik. Trimester kedua Jika tidak ada masalah, umumnya pemeriksaan USG bisa dilakukan kembali saat usia kehamilan sudah berada di trimester kedua atau minggu 18–20. Pemeriksaan USG pada trimester ini dilakukan untuk mengetahui jumlah janin yang berkembang, termasuk ada tidaknya kehamilan kembar, posisi plasenta, jenis kelamin janin, dan perkembangan janin secara keseluruhan. Trimester ketiga Pemeriksaan USG trismester ketiga atau pada usia kehamilan 28–42 minggu dilakukan untuk memastikan posisi janin di dalam rahim, kondisi cairan ketuban, letak plasenta, seperti plasenta letak rendah atau plasenta previa, dan pertumbuhan serta taksiran berat badan janin. Pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan secara teratur agar kesehatan Bumil dan janin dapat terus terpantau. Oleh karena itu, usahakan untuk tidak melewatkan jadwal pemeriksaan kehamilan, ya. Selain rutin menjalani pemeriksaan kehamilan, terapkan juga pola makan sehat, konsumsi vitamin prenatal sesuai anjuran dokter, minum air putih yang cukup, lakukan olahraga ringan secara rutin, dan istirahat yang cukup agar kehamilan Bumil tetap sehat sampai hari persalinan nanti.
pemeriksaan penunjang pada ibu hamil